Reformulasi Konsep Tuhan dalam Teologi Postmodern: Respon terhadap Tantangan Ateisme Modern
Abstract
Perkembangan ateisme, baik secara varian atau wilayah persebarannya merupakan tantangan bagi teologi untuk memberikan jawaban jika tuhan ingin tetap bisa diterima oleh masyarakat dunia. Ateisme rasionalistik yang berbasis sains dan romantik yang berbasis filsafat eksistensialis-humanistik berkembang pada ateisme yang berangkat dari trauma politik, ekonomi hingga psikologis terus mendapat tempat. Kajian ini menggunakan pendekatan filosofis atas gagasan tentang tuhan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, penolakan tuhan dan gagasan tentang tuhan baru sebagai jawab atas penolakan yang muncul. Dari kajian di atas dapat disimpulkan, pertama, gagasan tentang tuhan dinamis dan beragam sesuai cara berpikir dan perspektifnya. Kedua, penolakan atas tuhan memperlihatkan ketidakpuasan pada konsep ketuhanan teologi tradisional sehingga mereka menolak dan menganggapnya tidak lagi bermakna, baik dengan argumen rasional (ateisme rasionalistik), argumen eksistensial (ateisme romantik) hingga argumen sosial politik. Ketiga, muncul gagasan reformulasi konsepsi tentang tuhan yang sesuai dengan nalar dan kebutuhan masyarakat kontemporer atas konsepsi yang dihadirkan teologi tradisional. Dalam hal ini, pemikiran yang muncul adalah cara berpikir teologi yang terbuka pada filsafat, spiritualisme, sains hingga sosial politik. Dari dasar ini muncul rumusan bahwa konsepsi tuhan yang dibutuhkan adalah tuhan yang humanis-universal, spiritual sekaligus memberi ruang bagi nalar kritis untuk menghindari kultisme dapat menjatuhkan pada dehumanisasi baik verbal atau simbolik.




