Pendidikan Bahasa di Pesantren: Kajian Literatur Kritis Atas Kebijakan, Lingkungan, Pedagogi, dan Teknologi
Abstract
Pendidikan bahasa di pesantren berkembang dari fungsi instrumental untuk membaca literatur keislaman menuju kompetensi komunikasi, dakwah, studi lanjut, dan partisipasi global. Namun, kajian yang tersedia masih terfragmentasi menurut bahasa sasaran, tipe pesantren, dan teknik pengajaran, sehingga belum menjelaskan hubungan antara kebijakan bahasa, lingkungan berasrama, pedagogi, identitas santri, asesmen, dan teknologi. Artikel ini bertujuan memetakan perkembangan kajian pendidikan bahasa di pesantren serta merumuskan kerangka konseptual yang menjelaskan syarat keberlanjutan program bahasa. Kajian menggunakan kajian literatur kritis dengan sintesis tematik terhadap publikasi tahun 2015–2025 yang ditelusuri melalui Google Scholar, Garuda, DOAJ, Crossref, dan laman resmi jurnal. Literatur diseleksi berdasarkan relevansi langsung dengan pendidikan bahasa Arab, Inggris, bilingual, atau multilingual di pesantren, kejelasan metode, serta metadata yang dapat diverifikasi. Data dianalisis melalui pengodean tematik, perbandingan lintas studi, dan sintesis interpretatif. Hasil kajian menunjukkan lima pola. Pertama, kebijakan bahasa sering menempatkan bahasa Arab sebagai modal religius dan bahasa Inggris sebagai modal global, tetapi keduanya tidak selalu didukung tujuan kompetensi yang terukur. Kedua, lingkungan bahasa efektif ketika menyediakan input bermutu, interaksi bermakna, keluaran berulang, dan umpan balik aman. Ketiga, pedagogi kontekstual lebih produktif daripada penegakan monolingual yang berbasis hukuman. Keempat, praktik translanguaging memperkuat pemahaman dan identitas, tetapi dapat pula mempertahankan hierarki bahasa. Kelima, transformasi digital masih bersifat selektif akibat pembatasan gawai, ketimpangan sumber daya, dan kapasitas guru. Artikel ini menawarkan Kerangka Ekologi Pendidikan Bahasa Pesantren yang mengintegrasikan ideologi-kebijakan, lingkungan, pedagogi, identitas-investasi, serta teknologi-asesmen. Kerangka tersebut menegaskan bahwa mutu pendidikan bahasa ditentukan oleh koherensi sistem, bukan intensitas aturan semata.




